fear is a feeling caused by
the possibility of danger, pain, etc
Oxford Learner's Pocket Dictionary
#kayak pernah liat??
Selama bertahun-tahun, saya pikir punya rasa takut itu jelek. Nggak patut en nggak pantas. Mengundang cemooh orang, mengguncang perut para pemberani. Takut kecoa, tikus, hantu, kegelapan, ketinggian, ular, lewat kuburan tengah malam, sampai MCK 29. Yang terakhir disebut cuma ada di Cibubur. Katanya pernah ada yang bunuh diri di sana. Rohnya penasaran, jadi hantu, trus mengganggu setiap orang yang mau buang air. Gokil, orang percaya aja. Pff!
Nyinggung soal perasaan takut, beberapa waktu yang lalu saya dapet semacam pencerahan. Ting! Hehe, macam bohlam muncul di atas kepala, gitu. Tepatnya ketika saya membaca novel Coraline (ingat Coraline bukan Caroline) karangan Neil Gaiman. Fiksi abis emang, tapi tetap saja mengandung pelajaran. Tentang seorang anak --the title of the book-- yang harus membebaskan orangtuanya dari makhluk bermata kucing hitam yang hidup di balik salah satu pintu rumah barunya.
Lalu, what lesson i did get from the novel? Jenk-jenk: cara menghadapi rasa takut!
Eh-eh, emang gimana sih, kamu menghadapi rasa takut? Berikut beberapa tipsnya buat kamu. Baca en resapin ya? Moga-moga dapet manfaatnya!
First, sadari dulu bahwa rasa takut itu normal. Bukan aib. Sebagai manusia emang diilhamkan perasaan ini pada diri setiap manusia. So, there is nothing wrong about to have a feeling called "takut". Tapi, status netral ini bisa berubah kapan saja tergantung sikap yang kamu ambil terkait dengan rasa takut tersebut.
Second, analisa deh, sejauh mana rasa takut telah mengontrol diri kamu. Kalo kamu mendapati diri kamu "melakukan tumpukan kesalahan" atau "meninggalkan sekian kebaikan" lantaran banyak ketakutan tadi, maka sudah tiba saatnya kamu berkata: lawan!
Third, harap ingat: kata "lawan" bukan berarti kamu harus mematikan rasa takut, sebab hal itu sama sekali tidak perlu. Kenapa? Sebab bila takut kamu bunuh, bukan berarti di masa depan perasaan itu nggak akan muncul lagi. Nggak akan bermutasi. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengatasinya. Jadi, motivasi untuk yang lebih baik.
Fourth, hadapi rasa takut kamu kendati itu terasa membunuh kita pelan-pelan. Misalnya, takut sama ketinggian. Kamu nggak bakal sembuh dari phobia satu ini bila kamu nggak pernah memaksakan diri untuk naik ke tempat yang tinggi. Robert Frost berkata, "Lalui, maka kamu akan lewati." Lakukan, dan renungkan: pantas nggak hidup kamu yang berharga dikontrol sama perasaan takut tersebut?
Fifth, pahamilah kalo hal terbaik yang dapat terjadi ketika kita melawan rasa takut adalah menemukan arti keberanian itu sendiri. Bahwa yang namanya berani itu nggak selalu berarti nol persen rasa takut. Ia juga bisa diartikan: seni mengakali rasa takut. Seni melawan rasa gentar. Waktu dimana kita merasa sangat "hidup" karena setiap detik yang kita pakai untuk menghadapi rasa takut adalah jengkal-jengkal yang begitu "berwarna".
Sixth, ingat-ingat kata-kata mutiaranya Albert Camus, deh! Doi pernah bilang (tenang...tenang, udah di translate ke bahasa kita kok!), "Tantangan apa pun yang tidak bisa membuat saya mati, berarti akan membuat saya kuat." Ngerti kan? Simple, tapi dalem banget. Yuph, kita emang kudu punya tekad ngadepin rasa takut. Percaya deh: ketika "perjuangan" usai. kamu akan jauh lebih bangga sama diri kamu sendiri.
Last--but not least, lebih dekat sama Allah. Nasehat klise memang, tapi kamu nggak bakal memperoleh hasil yang maksimal sampe kamu benar-benar mencobanya. Think the most--and you'll ignore the less. Kalo udah berpikir yang "paling", emangnya kamu bakal ambil pusing sama yang "nggak paling"? Yuk, sama-sama ubah kalimat "Aku punya ketakutan besar" menjadi "Hey...ketakutan....lihatlah aku! Aku punya Allah yang Mahabesar!"