pergi



pergi adalah melanjutkan kehidupan lain yang pelan-pelan meniadakan kehadiranku disini, disampingmu. tetapi, aku tidak akan sepenuhnya pergi, hanya tidak lagi menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa yang kau alami dalam hidupmu.


bila aku pergi, kita berada di dunia masing-masing. aku hidup di duniaku, kau hidup di duniamu. tapi, percayalah, sebenarnya aku selalu denganmu. hanya mungkin kita tak melihat bulan yang sama dari balkon yang sama.


kamu, hidup harus terus diteruskan. lingkaran waktu harus terus berputar. dan, meski aku tak ingin pergi dan kau tak ingin aku pergi, hidup memang seringkali harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan.

MEMORIA

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu/lagu yang kunyanyikan dengan rambut kepang disisir ibu/ dan baju seragam yang agak bau keringat di hari rabu

Maaf karena beberapa hari yang lalu aku membuatmu khawatir. Setelah pesan-pesanmu tak kubalas, aku juga mengabaikan teleponmu yang bernada lebih cemas. Aku hanya ingin sendiri. Aku tau kau sangat menyayangiku, bahkan melebihi dirimu sendiri, tapi belakangan ini kau agak berlebihan. Aku senang sebenarnya kau begitu perhatian padaku, tapi kadang-kadang seseorang perlu melacak kesendiriannya seorang diri. Di fase itulah aku sekarang, tidak usah terlalu khawatir.

Dimana aku sekarang? Nanti juga kau pasti tahu. Aku tak pernah pergi jauh, kau tahu itu. Setiap kali pergi agak jauh dan aku tak pernah sekali pun berpikir ingin meninggalkanmu. Bahkan, aku tak pernah percaya pada diriku sendiri bahwa aku sanggup meninggalkanmu.

Aku hanya sedang bersembunyi saja, di sebuah tempat yang sebenarnya tak jauh darimu. Hei, bersembunyi bukan soal jauh atau dekat kan? Sembunyi adalah soal "menghilang", kau bahkan tak tahu sebenarnya aku selalu bisa melihatmu beberapa hari belakangan ini, kan? Sebab, aku memang tak jauh darimu. 

Hei, sudahlah, tak usah mencariku begitu. Teruskan saja kegiatanmu. Kita sudah lama tak punya waktu mengobrol lebih akab begini, kan? Aku selalu saja egois katamu. Kau juga egois kataku. Belakangan ini, kita kehilangan kesempatan untuk saling mendengarkan: setiap kali aku mengeluh, kau mengeluh. Setiap kali aku marah, kau ikut marah. Kita jadi tak punya waktu untuk saling mendengarkan, kita menjadi hanya mementingkan diri kita masing-masing.

Kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan....Sebab mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi dan menerima dengan tulus.

"Kamu sudah nggak sayang lagi sama aku!"
"Kenapa?Kok, bilang gitu?"
"Aku nggak bahagia lagi"
Ingat percakapan itu? Maafkan aku. Aku hanya mengukur kebahagiaan dari apa "yang aku rasakan" bukan apa "yang kita rasakan". Aku segera sadar setelah kau menangis. Meringkuk di sudut ruangan. Lalu, seperti biasa, setiap kali melihatmu begitu dadaku jadi lemah: jangan-jangan aku juga tak memberimu kebahagiaan, ya? Maafkan aku. Aku memang hanya mementingkan diriku sendiri belakangan ini, aku lupa bahwa hubungan ini kita bangun bersama-sama: bukan untukku, bukan untukmu, tapi untuk kita.

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu/lagu yang kunyanyikan dengan rambut kepang disisir ibu/ dan baju seragam yang agak bau keringat di hari rabu

Kadang-kadang terasa, kesalahan dan kekurangan kita masing-masing justru merupakan yang terpenting dalam semua yang kita jalani. Bukan yang terbaik dari kita. Lihatlah, saat kau menunjukkan dirimu adalah penakut nomor satu yang pernah aku kenal seumur hidupku, aku segera tahu bahwa aku cukup berharga untuk berada di sampingmu--setidaknya mengantarmu pulang malam-malam dan menemanimu. Tentu saja, saat kau juga tahu bahwa aku pelupa paling alpa yang pernah kau kenal sepanjang hidupmu, bukankah kau juga segera sadar bahwa kau begitu berharga bagiku-- setidaknya sebagai sahabat yang selalu menanyaiku: tidak lupa makan, kan?

Kamu, aku ingin cinta yang penuh semangat. Seperti kita menghafal dan menyanyikan lagu wajib saat duduk di sekolah dasar dulu. Aku ingin cinta seperti lagu wajib sekolah dasar, yang kita persiapkan secara total dan utuh. Bukan yang setengah-setengah, bukan yang sisa dari semangat yang lain.

Aku ingat saat aku menabung hanya untuk menemuimu. Meski akhirnya kau juga yang menemuiku dan saat itu pula aku marah besar karena kau tidak memberiku kesempatan untukku memperjuangkanmu. Aku cukup senang. Aku senang sekali, sejujurnya. Meski tak sesuai rencana dan tak seperti yang kubayangkan sebelumnya, kebahagiaan tak selalu harus sesuai rencana,  bukan? Kadang, ia justru jauh lebih bermakna ketika muncul sebagai sebuah ketiba-tibaan yang tak terduga-duga sebelumnya.

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu/lagu yang kunyanyikan dengan rambut kepang disisir ibu/ dan baju seragam yang agak bau keringat di hari rabu


is remember you

i have no choice to rememmber you or not
its come suddenly
and no wonder for me only lil bit disaster....


How's your day? a simply question that means everything i can't tell you anymore
Be better right!!!
Cause i know, it's been so long you wanna visible 
okay lets stop my bad feeling about us* enough..
i just pretend 
you  never wrong acctually, it's mine
always celebrate our anniversary, whenever and wherever i want
always react when you placed in badly things
always and always about me
not us
not you
so........see u date every date we've pass before
let the time covered our story

that's all

Apa kabar dunia egois??



Apa yang akan kita lakukan ketika melihat seorang ibu-ibu muda di pasar membawa anak bayinya untuk mengemis di pasar?
jawaban 1 tapi yang paling sring disangkal adalah: cuek bebek aja
jawaban 2: ngasih lah ceban doing
jawaban 3: ngajakin ngobrol nanya rumahnya mana (ngaco banget sodara juga bukan?)

Apa yang akan kita lakukan kalo ngelihat cewek berdiri di busway sambil bawa tas berat (khusus cowok)?
jawaban 1: liat dulu kalo cantik ya gw bantuin (kira2 beginilah isi kepala kaum adam)
jawabn  2: diemin aja
jawaban 3: boro-boro mau nolongin, ngeliat aja gw kagak punya nyali (tuh cowok mending pake rok aja!!!)

Demikian juga untuk membuang sampah, membuang limbah bahkan membuang hajat aja masih banyak aja tuh orang yang sembarangan. Mau bukti? Dateng aja ke ke kamar mandi umum di pasar senen atau ini aja di stasiun atau di terminal. Gimana kesan-kesannya? Hmmmm sekali lagi…memperlakukan barangnya *baca:hajat* gak bisa apalagi memperlakukan orang lain?
 Dan sebaliknya di MTA *mall taman anggrek atau MPI *mall pondok indah, beuhhh kamar mandi aja udah dikasi sofa mirip ruang tamu aja. Paham kan? Apaan?
Kenapa bisa orang hidup sedemikian melaratnya dan seseorang lainnya sedemikian konglomeratnya? Padahal kita semua memiliki kesempatan menikmati udara gratis. Berkesempatan juga untuk berusaha. Setidaknya mensyukuri selalu atas apa yang kita dapatkan dari hasil keringat *kerja beneran*. Heran, udah kaya masih aja nipu dengan nggak tau dirinya? Apalagi yang miskin hidup nipu aja susah gimana gak nipu?

Egois,

begitu ringannya salah...

Sering sekali hal-hal yang tidak enak terjadi di luar kesengajaan kita. Dalam dunia “real time” dan media sosial yang “tell all” begini, ucapan, sikap, pendapat, atau perbuatan yang dinilai tidak pantas bisa segera menjadi bahan diskusi, sindiran, bahkan sampai mendapatkan sosok yang menjadi sorotan sebagai “bulan-bulanan”. Komentar negative yang dilontarkan terhadap sebuah restoran tiba-tiba membuat orang lain terdorong timpal-menimpali membicarakan kejelekan restoran tersebut. Foto “nakal” dari masa lalu yang tersebar luas, bisa membuat individu diberi label negative untuk masa yang panjang. Komentar yang tidak tepat pada saat meeting, bisa membuat seseorang yang tadinya dikagumi menjadi disudutkan. Pejabat yang salah bicara atau tertangkap kamera melakukan perbuatan yang tidak patut, mau tidak mau harus siap “mempertanggungjawabkan” keteledorannya. Kita sangat sadar bahwa nasib kita tidak selalu di atas angin. Kesalahan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak, sekejap mata bisa merusak reputasi dan langsung akan berdampak pada daya jual, respek, dan penerimaan orang.



Yang perlu digarisbawahi adalah semua orang pernah melakukan kesalahan dengan sengaja atupun tidak tapi bukan berarti mereka tidak pernah berbuat baik sekalipun saat ini dia mendekam dalam penjara  bertahun-tahun atau sepanjang hayatnya karena kasus pembunuhan, mutilasi, bahkan para teroris sekalipun. Tapi apakah parameter pernah salah inikah yang dijadikan hakim putusan tertinggi atas nilai seorang manusia??? Saya rasa tidak bijak sama sekali…bukan seperti itu. Dan jika memang demikian yang telah kita kehendaki maka sebenarnya kita adalah orang yang menutup mata terhadap kenyataan atau memang kita masih merasa dirugikan atas tindakan orang yang kita rasa melakukan kesalahan. Pada akhirnya kembali lagi pada definisi kita menurut saya bukan merugikan kepentingan orang banyak melainkan orang yang bersangkutan, lalu layak kah menghakiminya beramai-ramai sedangkan ini hanya urusan yang bersangkutan? Layak kah membebankan segunung kesalahan-kesalahan yang bermunculan semakin banyak hanya karena sebuah kesalahan di pundaknya? Hei…..you’re not God!!!! And me too…

Baik bagi kita renungkan bersama….

Fear's Metamorphosis

fear is a feeling caused by 
the possibility of danger, pain, etc 
Oxford Learner's Pocket Dictionary

#kayak pernah liat??

Selama bertahun-tahun, saya pikir punya rasa takut itu jelek. Nggak patut en nggak pantas. Mengundang cemooh orang, mengguncang perut para pemberani. Takut kecoa, tikus, hantu, kegelapan, ketinggian, ular, lewat kuburan tengah malam, sampai MCK 29. Yang terakhir disebut cuma ada di Cibubur. Katanya pernah ada yang bunuh diri di sana. Rohnya penasaran, jadi hantu, trus mengganggu setiap orang yang mau buang air. Gokil, orang percaya aja. Pff!

Nyinggung soal perasaan takut, beberapa waktu yang lalu saya dapet semacam pencerahan. Ting! Hehe, macam bohlam muncul di atas kepala, gitu. Tepatnya ketika saya membaca novel Coraline (ingat Coraline bukan Caroline) karangan Neil Gaiman. Fiksi abis emang, tapi tetap saja mengandung pelajaran. Tentang seorang anak --the title of the book-- yang harus membebaskan orangtuanya dari makhluk bermata kucing hitam yang hidup di balik salah satu pintu rumah barunya.

Lalu, what lesson i did get from the novel? Jenk-jenk: cara menghadapi rasa takut!

Eh-eh, emang gimana sih, kamu menghadapi rasa takut? Berikut beberapa tipsnya buat kamu. Baca en resapin ya? Moga-moga dapet manfaatnya!

First, sadari dulu bahwa rasa takut itu normal. Bukan aib. Sebagai manusia emang diilhamkan perasaan ini pada diri setiap manusia. So, there is nothing wrong about to have a feeling called "takut". Tapi, status netral ini bisa berubah kapan saja tergantung sikap yang kamu ambil terkait dengan rasa takut tersebut.
Second, analisa deh, sejauh mana rasa takut telah mengontrol diri kamu. Kalo kamu mendapati diri kamu "melakukan tumpukan kesalahan" atau "meninggalkan sekian kebaikan" lantaran banyak ketakutan tadi, maka sudah tiba saatnya kamu berkata: lawan!
Third, harap ingat: kata "lawan" bukan berarti kamu harus mematikan rasa takut, sebab hal itu sama sekali tidak perlu. Kenapa? Sebab bila takut kamu bunuh, bukan berarti di masa depan perasaan itu nggak akan muncul lagi. Nggak akan bermutasi. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengatasinya. Jadi, motivasi untuk yang lebih baik.
Fourth, hadapi rasa takut kamu kendati itu terasa membunuh kita pelan-pelan. Misalnya, takut sama ketinggian. Kamu nggak bakal sembuh dari phobia satu ini bila kamu nggak pernah memaksakan diri untuk naik ke tempat yang tinggi. Robert Frost berkata, "Lalui, maka kamu akan lewati." Lakukan, dan renungkan: pantas nggak hidup kamu yang berharga dikontrol sama perasaan takut tersebut?
Fifth, pahamilah kalo hal terbaik yang dapat terjadi ketika kita melawan rasa takut adalah menemukan arti keberanian itu sendiri. Bahwa yang namanya berani itu nggak selalu berarti nol persen rasa takut. Ia juga bisa diartikan: seni mengakali rasa takut. Seni melawan rasa gentar. Waktu dimana kita merasa sangat "hidup" karena setiap detik yang kita pakai untuk menghadapi rasa takut adalah jengkal-jengkal yang begitu "berwarna".
Sixth, ingat-ingat kata-kata mutiaranya Albert Camus, deh! Doi pernah bilang (tenang...tenang, udah di translate ke bahasa kita kok!), "Tantangan apa pun yang tidak bisa membuat saya mati, berarti akan membuat saya kuat." Ngerti kan? Simple, tapi dalem banget. Yuph, kita emang kudu punya tekad ngadepin rasa takut. Percaya deh: ketika "perjuangan" usai. kamu akan jauh lebih bangga sama diri kamu sendiri.
Last--but not least, lebih dekat sama Allah. Nasehat klise memang, tapi kamu nggak bakal memperoleh hasil yang maksimal sampe kamu benar-benar mencobanya. Think the most--and you'll ignore the less. Kalo udah berpikir yang "paling", emangnya kamu bakal ambil pusing sama yang "nggak paling"? Yuk, sama-sama ubah kalimat "Aku punya ketakutan besar" menjadi "Hey...ketakutan....lihatlah aku! Aku punya Allah yang Mahabesar!"

STOP ego sektoral deh mulai dari sekarang!!

Hari jumat pagi yang sibuk, saya harus menuju pada ruang seminar membantu dua orang teman sekedar memoderatori mereka #hehehe....sok sibuk. 

Ni dia ruang seminar yang berhasil saya jepret tadi 
*rame toh!
 rame berbagi kartu seminar dan nasi kotak

Eniwei skripsi teman saya itu menarik, tentang perencanaan pembangunan kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Kediri tempat asal saya. Inti bahasannya adalah semakin sedikitnya kawasan hijau *baca:bukan lapangan/sawah* di perkotaan. Emang kalo saya liat-liat juga kawasan ijo di Kediri jarang ditemui, mana coba? Alun-alun? Iyu mah cuma tempat PKL mangkal, yang banyak jualan kerupuk upil sama bakso. Bahasa sundanya riweuh atau ribet karena ruang terbuka hijau yaitu alun-alun kota telah beralih profesi sebagai ladang kapitalisme. Hayah istilah baru lagi........pake bahasa manusia napa??? Hmmm gini deh. Mau gak mau, suka gak suka kita akan sekarang hidup di negara yang kapital dengan gaya hidup hedonisme serta konsumtif. Alias, di sekeliling elo-elo pade ini bulshit sekali yang namanya ekonomi kerakyatan lah, otonomi daerah untuk menonjolkan potensi daerah lah, yang ini lah itu lah. Barangkali bahasan saya sulit jika diterima korban (masyarakat/penjual koran/penjual bakso/si penjual krupuk upil pun jadi sasaran) tetapi para mahasiswa yang ngakunya sebagai kalangan intelektual mungkin memiliki istilah yang lebih pas. Eits kan pada nunduk kalian ini gak usah pura-pura gak tahu, buat apa kita susah-susah belajar 4 tahun kalau pada akhirnya sok bego malah bego beneran tar. Udah deh gini aja, belajar sama-sama.

Problem's maping nya kira-kira seperti ini:
Negara berkembang seperti Indonesia, India, Singapura telah tertinggal jauh dari negara maju (Amerika, Eropa, Rusia) . Baik itu dari segi ekonomi, sosial maupun budaya. Sehingga negara berkembang ini pada berlomba-lomba untuk ikutan maju atau modern lah istilahnya yah selain ngiri ma negara maju dan juga sudah merupakan keharusan Indonesia untuk ikut dalam pergaulan internasional. Makanya gak aneh kalo di Kediri yang merupakan bagian terkecil dari Indonesia terus berbenah untuk menjadi modern. Tapi ya gitu deh pembangunan hanya didasarkan pada pengertian usaha yang akan mempengaruhi dan merubah potensi sumber-sumber dan keadaan lingkungan hidup. Akhirnya pembangunan identik dengan pembangunan segala infrastuktur fisik saja seperti yang terjadi pada masa orde baru. Ternyata kebanggan saya selama bercerita mengenai tempat kelahiran saya kepada teman-teman "Eh kediri mah kota, kita ada bioskop, mall, waralaba mana yang gak ada di kediri? #sok tau padahal ngeh juga enggak biar dibilang maju aja" adalah NOL BESAR! Kota dengan jumlah lahan terbatas guna memenuhi tuntutan penyediaan lahan atau tanah yang luas untuk pembangunan seringkali mengambil jalan pintas dengan menggunakan lahan nganggur seenak udelnya sendiri. Alhasil kota pasti jadi tempat mengais rupiah saja belum lagi dampaknya pada masalah sosial lain, urban gede-gedean, kriminal, pengap, macet, banjir.

salah satu mall nya

jalan doho nih, panas, ruas jalan makin abis buat parkiran

Masak walikota saya nggak ngerasa yah? Oh tentu tidakk. Perempatan deket rumahnya lo sering banget macet. Terus tunggu apalagi? Nunggu investor pada dateng dulu sambil nancepin modal banyak? Apa emang dulunya butuh modal gede buat jadi walikota? Jadinya sekarang kejar setoran buat balikin utang buat kampanye dulu terus dilanjut sama memperkaya diri?? Aduh pak...pak...kenapa nungguin rakyatnya tereak-tereak dulu sih ya? No liat investor pada kegirangan tuh gara-gara mereka dapet lahan banyak buat berbisnis sekaligus nancepin kuku-kuku kapitalisme lebih dalem lagi. Everyone pasti punya kepentingan dibalik itu semua, jadi stop deh latah ego sektoral. Emang kalau Surabaya atau Jakarta maju dengan metropolitannya kita juga musti ikut-ikutan kan. Oke, katakanlah di Kediri ini terdiri beberapa sektor yang memang memiliki potensi masing-masing entah industri, pertanian, maupun hiburannya. Karena udah ada porsinya masing-masing jangan sampai dibalik-balik misalnya daerah mojoroto kawasan pendidikan jangan ditambahin industrinya donk kasian yang sekolah disana pada nggak bisa napas. Dengan berjejal-jejal industri dan aneka hiburan dalam wilayah kota seharusnya diimbangi dengan RTH yang udah saya singgung di atas. Biar gak panas-panas banget. Ada lo dasar hukumnya, baca aja pasal 29 UU No. 26 tahun 2007 yang berbunyi "Proporsi luasnya paling sedikit 30% dari luas wilayah kota." Tapi lagi-lagi kita diakalin orang pemkot, masak pojok-pojok kota yang dikasi pot isi taneman berjenis gak jelas gitu dimasukin ke kriteria ruang tata hijau? Biar bisa memenuhi 30% dari luas wilayah.

Huuuhhh payah,
udah hidup masyarakat pas-pasan masih juga suka dibohongin padahal kan bohong itu dosa? #muka sok lugu mendadak muncul. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya…….(Al A’raaf 56 ). 

up