Senewen saya sepersekian second -____-a

Semalaman seusai pulang dari kantor, saya melamun masih memikirkan nasib teman saya yang kecopetan. Semua isi beserta dompetnya raib tak berbekas. KTP, SIM, STNK, ATM dan credit card nya tinggal kenangan. Sebagai temannya saya ikut merasa kehilangan juga tapi apa yang bisa saya perbuat?

Sepanjang perjalanan ke rumah saya tidak konsentrasi membawa kendaraan dengan berbagai macam solusi yang harus saya temukan untuk memecahkan masalah teman saya. Bukannya saya kasihan dengan dia cuma yang di benak saya "kalau keadaan terbalik, saya yang berada di posisi teman saya". Entah bagaimana susahnya saya dan berharap salah seorang teman dekatnya ikut mengusahakan sesuatu.

Lebih anehnya lagi sesampainya saya di rumah, saya cuma diam sewaktu sodara saya mengajak ngobrol #melamun kembali#. Mungkin kamu akan merasa saya ini XL (extra lebay) tapi saya juga bingung. Semalam sewaktu saya berdiskusi dengan teman saya yang lain tentang perihal kecopetan. Katanya "kamu kasian apa perhatian nih, suka kali?"
BUKAN, SAYA CUMA INGIN MENOLONG DENGAN KEADAAN SAYA SENDIRI YANG TERBATAS.

Tapi saya sendiri juga sadar, gak harus segitunya. Auuuuu ahhhhhhhhh *senewensenewensenewen*

Pulang

Sudah sejak lama aku ingin menulis tentang rumah. Tetapi selalu tertunda. Kadang-kadang, tulisan tentang rumah hanya kutulis beberapa baris saja, untuk kemudian kehilangan langkah selanjutnya. Di lain waktu, bebrapa paragraph sudah mulai tersusun, tapi aku merasa tak mewakilkan perasaan apa-apa pada deretan kata-kata yang kutuliskan. Di saat-saat seperti itu, aku memutuskan untuk berhenti, menunda: Aku belum siap menulis tentang rumah.



TApi apa yang kautunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun! Dan, kali ini aku kena. Ada sesuatu yang menggebu-gebu menarik-narik lenganku untuk menyalakan computer dan menuliskan sesuatu tentang rumah—tentang ingatan-ingatan kecil yang kutinggalkan pada coretan-coretan nakal Yona kecil di pintu ruang keluarga, tentang cermin di kamar kakak yang retak akibat ulah Yona kecil yang nakal, tentang segala hal.

Apa yang kautunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun. berkali-kali aku menolak permintaan ibu untuk pulang. Aku sibuk, kataku pada ibu hingga niat untuk pulang terus menerus nkugagalkan. Sampailah aku pada Rabu lalu, ketika rindu tak lagi tertahan, dan “kekuatan itu memburuku tanpa ampun”.

Lalu, aku akan pulang. Aka nada banyak kenangan yang kembali terbayang, terbentang. Kenangan tentang rumah, tentang ibu, ayah, tentang segala hal yang tertinggal. Kepulangan kali ini lain. Aku hanya ingin pulang. Itu saja. Seperti menuntaskan apa yang telah lama tertunda. Seperti seorang petualang yang kembali ke tempat dari mana dia memulai semuanya.

Sebuah rumah adalah titik tolak dan juga titik kembali. Sudah lama sekali aku tidak pulang. Setibanya di rumah, aku akan merasakan sejumlah ingatan yang menyergap pikiranku lagi. Di halaman itu, Dua belas yang lalu, seorang anak perempuan berebut sesuap nasi bersama kakak perempuannya ketika menunggu becak jemputan sekolah datang, dan Ibu hanya tersenyum dengan sepiring nasi goreng di tangan. Di pintu itu, dulu, seorang perempuan kecil bergelantungan sambil membayangkan diri seperti pebasket professional yang melakukan Slam dunk—dan ayahnya selalu memarahinya. Ada banyak kenangan di rumah, kenangan yang selalu memanggil dan menunggu, membuat kita selalu ingin “pulang”.

Lalu, aku akan membuka pintu. Bau itu, bau yang khas, bau rumahku. bau yang entah bernama apa tetapi selalu membikin aku betah berlama-lama di sana. Bau yang hanya kutemukan disini, di rumah ini. Juga seorang yang setelah itu akan bergegas ke ruang depan: iya dia ayahku. Ah, lelaki itu yang selalu berkata padaku, “Jagalah dirimu baik-baik, nak.” Lelaki yang menyayangi anak-anak dan istrinya lebih dari hidupnya sendiri.

Lalu, seseorang bertanya dari dalam sana, “Siapa Yah?”, dan kepalanya muncul dari belakang; Ibu. Ah, Ibu. Dial ah yang selalu membuatku merindu rumah. Selalu. Aku tak perlu menuliskan apa-apa tentang Ibu. Mungkin butuh sebuah tulisan tersendiri untuk menceritakannya. Pokoknya, bayangkanlah seorang perempuan yang sangat mecintai ibunya, itulah aku. Ibu, perempuan yang, ah, entah bagaimana aku harus menggambarkannya.

Apa yang aku maknai tentang rumah? Sebuah titik tolak dan titik kembali. Bangunan yang bukan hanya ruang berdinding empat dengan jendela dan pintu-pintu. Rumah adalah sebuah tempat di mana segala harapan bertumbuh, dan rasa rindu harus dituntaskan di sana. Sebuah tempat dimana kau bisa menemukan dirimu sendiri kembali menjadi anak kecil yang manja, adik yang penuh rasa ingin tahu yang berlebihan. Sebuah tempat yang dihuni orang-orang yang bisa melihatmu sebagai dirimu sendiri, apa adanya.

Ah, rumah. Malam itu, aku akan disitu. Merasa benar-benar bahagia. Kalian yang lama tak mengunjungi rumah, pulanglah. Ada rumah di sana. Juga kenangan-kenangan yang menunggu. Ibu dan ayah. Kakak. Pulanglah. Sebesar apapun kesalahanmu dan kekesalanmu, pulanglah, sebab rumah adalah sebuah titik tolak dan titik kembali. Percayalah, pintunya selalu terbuka untukmu.

Let me go home/I’ve had my run/Baby, I’m done/ I gotta go home/ Let me go home/ It will all be all right/ I’ll be home tonight/ I’m coming backhome…….


Tuhan,
kalau kau membalas kejahatanku
dengan kejahatan lagi,
apa bedanya Kau dan aku?

Amin.

Siapa yang suka Bo'ong?


Kau pernah berbohong? Aku pernah. Bahkan, mungkin sering. Bila kau tanyakan kepada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kealpaan, bukan? Dan kapankah aku pertama kali berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi itu kulakukan pada ibuku, disuatu sore yang membuat dadaku bergetar dan tubuhku gemetar.

Ibu melarangku bermain di sawah. Sejujurnya, dengan alasan yang tak bisa kuterima dan tak sepenuhnya kumengerti. Tapi, teman-temanku semuanya main di sawah; memburu laying-layang, bermain air di sungainya atau sekedar menyusur di pematang. Dan, aku terkucil karena berhari-hari menolak ajakan mereka bermain ke sana. Aku teguh pada apa yang dipesankan ibu, tetapi pilihan itu adalah pilihan yang (me)sulit(kan).

“Ah, anak mama!” kata temanku mengejek.
“Tetapi, ibu melarangku bermain di sana!”
“Ayolah, ibumu ngaak akan tahu, kan?”

Ya, Ibu memang tak akan tahu sekalipun aku tak menyelinap keluar untuk bermain air di sawah. Ibu adalah wanita yang bekerja dari pagi hingga sore, pastilah dia hanya akan di tempat kerjanya. Maka kuputuskan melampaui “batas” yang Ibu buat untukku. Diam-diam, aku menyelinap keluar, dan memandang sawah yang terbentang. Seorang teman menarik lenganku, “Ayo kita mencuri tomat!” katanya.

Mencuri? Aku baru saja melakukan kesalahan pertama, haruskah kesalahan kedua segera menyusul? Rupanya, memang begitu. Sekali pintu kesalahan terbuka, pintu lainnya begitu menggoda. “Aku tak ingin mencuri tomat!” ucapku dan setengah berlari mengikuti temanku si pencuri tomat. “Ayolah, sekali saja,” katanya sambil terus berlari, dan menyunggingkan senyum  mengejek di ujung bibirnya—seperti seseorang yang berkata, kau gadis penakut!

Lalu, dengan dada yang berdebar, aku pun mencuri tomat.

Berkali-kali, aku menembus sawah, berkali-kali aku mencuri tomat. Dan, kini kami harus pulang melewati batas senja karena kami ketahuan oleh paman penjaga petak tomat ketika sedang berusaha mencurinya: kami harus menghadapi siding susila di depan gubuk paman penjaga tomat!

“Oh, jadi kalian yang suka mencuri tomat!?” bentaknya pada kami. Dadaku berdebar hebat. Andai saja bisa kuakali waktu, aku ingin menolak ajakan temanku dulu untuk melanggar pesan Ibu. Andai saja bisa kuputuskan nadi waktu.

“ Bukan, bukan, Paman. Kami bukan pencuri. Kami hanya mengambil tomat-tomat busuk untuk bermain perang tomat. “Salah seorang temanku membela diri. “Ah, alasan!” katanya. “Aku akan melaporkan kalian kepada orangtua kalian masing-masing!”

Deg! Tiba-tiba, aku sesak napas. Aku tak mau melukai perasaan ibuku. Aku tak mau membuat ayahku malu. Ah andai saja bisa kuakali waktu. Aku menyesal, sedalam-dalamnya. Ah, tetapi penyesalan hanyalah orang suci yang entah pergi kemana ia sebelumnya.

Setelah berjanji aku tak akan mencuri lagi, kami dilepaskan dengan sebuah ancaman; kalau sekali lagi ketahuan mencuri tomat, paman penjaga petak tomat tak akan segan melaporkan kami pada orangtua kami.

Menjelang adzan Magrib, kami baru pulang ke rumah masing-masing. Dan, Ibu marah padaku.
“Kamu kemana saja?” Tanya Ibu.
“Main Bu,” jawabku agak lesu.
Main dari mana jam segini baru pulang?”
“Eh…mmm….dari rumah Eni.” Tiba-tiba aku mendapati diriku menjadi pembohong hebat. Ah, dadaku berdebar kembali tak karuan. Aku bohong lagi pada Ibu.
“ Kenapa pulangnya malam begini?”
“Eh…mmm….ya main aja. Keasyikan. Aku mau mandi ya Bu?”
“Ya.”

Sore itu aku jadi pembohong hebat. Aku tak tahu apakah bohong semacam itu mendapat dosa yang utuh? Aku tak berbohong, aku hanya tidak mengatakan yang sebenarnya, atau aku hanya mengatakan sebagiannya saja. Aku pikir, Tuhan tahu kalau aku kebohonganku kali ini adalah kebohongan untuk menjaga perasaan Ibu, dan kebohongan yang dilakukan untuk menajga perasaan orang lain harus mendapat diskon karena ada sisi baiknya? Mudah-mudahan malaikat tahu.

Sejak itu, aku jadi terbiasa berbohong. Bahkan, aku tak ingat soal apa saja kebohongan yang pernah kulakukan. Hanya, aku pikir, kebohongan-kebohongan yang kulakukan cenderung bisa dimaafkan. Misalnya, sewaktu kelas 3 SD, aku berbohong pernah pergi ke kebun binatang ketika ibu guru bertanya siapa yang pernah pergi ke kebun binatang Bonbin. Semua teman sekelasku mengacungkan tangan. Kecuali aku. Dengan terlambat, aku mengacungkan tangan. Mungkin kebohongan semacam ini dosanya sedikit, Ibu guru lah yang sebenarnya salah. Mengapa harus menanyakan hal-hal yang bisa membuat sebagian muridnya malu? Atau mungkin seharusnya begini: mengapa membuat sebagian muridnya berbohong? Semua murid mengacungkan tangan waktu itu, dan aku tak tahu siapa yang berbohong sepertiku.

Tapi rupanya kebohongan tidak akan membiarkan kita lolos begitu saja. “Yo, ke Bonbinnya dengan siapa?” Tanya bu guru. Ah, aku akan mengikut sertakan keluargaku dalam bohongku. “Sama Ayah, Ibu dan kaka, Bu!” jawabku.

“Wah aku juga pernah kesana!” sahut Handi. “Kamu naik prosotan, kan?”
“Iya dong!” jawabku semakin fasih berbohong.
“Asyik, ya?”
“Iya!”

Ah, kebohongan-kebohongan itu semakin tak bisa kulepaskan dari diriku. Sejak itu, aku jadi tahu, kebohongan sekecil apa pun, meski sudah di diskon karena kita melakukannya untuk menjaga perasaan orang lain—atau perasaan kita sendiri—tetap bisa jadi besar karena jumlahnya yang banyak. Kebohongan tak bisa dihentikan. Aku tahu itu setelah aku dan Handi selesai mengobrol panjang soal Bonbin yang hanya kulihat di televisi itu.

Kali ini, aku berbohong. Kebohongan yang kecil, sebenarnya. Tetapi, kusadari merupakan bagian lain yang tersambung dengan kebohongan pertamaku dulu. Aku kecewa karena kali ini dadaku sudah tak berdebar lagi ketika berbohong. Apakah aku sudah menjadi pembohong hebat—yang bahkan tak akan terdeteksi oleh mesin pelacak kebohongan karena tak ada debar yang istimewa?

Aku tak tahu. Aku hanya kehilangan debar itu. Debar yang membuatku tak bisa tidur semalaman dan memaksaku berjanji tak akan berbohong lagi.

Kau pernah berbohong? Aku sering. Bila kau tanyakan kepada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kealpaan, bukan? Dan, kapan pertama kali aku berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi kulakukan pada ibuku, di suatu sore yang membuat dadaku berdebar dan tubuhku gemetar. Seperti yang sudah kuceritakan kepadamu.

Bila kau pernah berbohong, pernahkah kau dibohongi? Ah, rasanya kita tak bisa lepas dari kebohongan-kebohongan. Berbohong-dibohongi. Kau bahkan tak akan tahu bahwa sejak tadi aku membohongimu dengan cerita soal masa laluku bukan? Apa kau juga pura-pura membaca cerita-ceritaku?
Aku juga tak tahu.

(See…aku sedang belajar tidak berbohong *AT)

i Have a Dream


 Aku adalah pengagum novel anak-anak. Dari sekian banyak novel yang kumiliki, banyak sekali di antaranya merupakan cerita anak. Mulai dari Pipi the Long Stocking, Momo, hingga Little Prince. Dunia nak-anak begitu mengagumkan bagiku. Walaupun untuk mengakui aku menyukai anak kecil masih terlalu awal. Tapi dari sana, aku jadi tahu bahwa imajinasi selalu tak memiliki batas apa pun.

Dunia anak-anak adalah dunia yang kritis, penuh dengan pertanyaan. Suatu hari, Pippi bertanya pada dunia: mengapa 1+1 sama dengan 2 dan tidak 11? Sebab setaunya, dua orang lelaki dan perempuan yang berkeluarga di pedalaman Afrika sana selalu memiliki banyak anak. Dan, pertanyaan-pertanyaan serupa terjadi pada anak-anak lainnya juga: Hans Thomas yang selalu bertanya mengenai hampir segala hal yang ia lihat selama perjalanan menuju kampong para filsuf (The Solitaire Mystery, Jostein Gaarder), setan Angka yang kerepotan menjawab pertanyaan-pertanyaan Robert kecil tentang Matematika (The number devil, Hans Magnus Enzensberger), atau si Gladys (ponakan) bertanya soal kok burung bisa terbang? Ya, dunia anak-anak adalah dunia bertanya, dunia yang selalu penuh keingintahuan dan impian-impian.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab no. 2: KENAPA TUHAN MEMBUAT ANAK-ANAK JATUH SAKIT? Atau, Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab no. 6: KENAPA SIH, ORANG MESTI MATI? Dua pertanyaan yang juga menjadi pertanyaan favorit ku ketika aku kecil. Sewaktu aku bertanya hal semacam ini kepada orang dewasa di sekelilingku dulu (seperti: kalau Tuhan mahabaik, kenapa anak-anak dibiarkan menangis? Kenapa orang-orang dibiarkan mati?), mereka marah dan melarangku untuk bertanya aneh-aneh. Aneh, bertanya kan, tidak berdosa!

Siapa yang aneh orang dewasa atau anak-anak? Menurutku orang dewasa lah yang aneh. Orang dewasa telah bbanyak kehilangan daya kritis dan daya imajinasi mereka. Mereka menentukan banyak hal dengan ukuran-ukuran, penilaian-penilaian, dan batasan-batasan. Maka bagi orang dewasa, dunia menjadi kaku. Dunia seperi itu tentu membosankan. Bila diibaratkan sebagai kutu dalam tubuh kelinci yang dimiliki seorang pesulap. Orang dewasa adalah mereka yang menganggap kehidupan seperti “apa adanya” dan harus dijalani begitu saja. Maka, mereka memilih terbenam di dasar bulu kelinci sambil menonton televisi, menonton tinju, atau menunggu perkembangan harga saham. Namun, bagi anak-anak, bulu kelinci yang panjang harus dipanjat. Mereka harus tahu seperti apa bentuk kelincinya dan siapa pesulapnya. Maka, bagi anak-anak, dunia sangay luas dan harus terus-menerus diperluas dengan pertanyaan-pertanyaan. Makanya, anak-anak lebih cocok jadi filsuf kata Gaarder.

Hal lain yang menarik dari dunia anak-anak adalah, anak-anak selalu punya impian—dan tentu saja impian mereka tidak statis, impian mereka terus berubah, terus [menerus] dinamis. Aku ingat, sewaktu kecil aku pernah bercita-cita ingin jadi penjual tapai. Lalu cita-cita itu berganti beberapa bulan kemudian setelah aku menemukan buku di perpustakaan tentang astronomi. “Aku ingin menjadi astronot saja,” batinku tentang cita-cita. Dan begitu terus berubah. Aku sempat bercita-cita jadi buruh pabrik sepatu, wartawan, pramugari hingga setelah agak dewasa aku bercita-cita menjadi dokter. dan impian itu sulit berubah lagi. entah kenapa. Padahal aku begitu menikmati waktu-waktu ketika aku mengganti-ganti sejumlah impian dan cita-citaku.

Impian memang sejenis utopia. Tetapi, ia penting untuk dimiliki. Dan anak-anak memiliki stok yangs angat banyak, orang dewasa susah sekali bercita-cita dan bermimpi, padahal bermimpi tak harus bayar. Seorang penyair Italia pernah ditanya soal utopia. “Apa itu utopia?” Tanya seseorang kepadanya. “Utopia adalah sebuah titik, yang ketika kau berada di sebuah horizon, titik itu berada sepuluh langkah di hadapanmu,” kata si penyair, “setiap kali kau mendekatinya sepuluh langkah, titik itu akan menjauh sepuluh langkah. Dan, ketika kau berusaha menggapainya seribu langkah, titiki itu selalu menjauh sebanyak langkah yang kau ambil,” Si penanya terus bertanya. “Itu tadi, utopia penting untuk dimiliki. Agar kau selalu melangkah, dan melangkah terus.”

Anak-anak punya banyak impian, anak-anak punya banyak utopia. Dan, itulah yang selalu membuat mereka bahagia dan tidak bisa diam. Anak-anak menciptakan utopia mereka sendiri dalam dunia imajinasi yang sangat luas. Banyak orang besar memulai hal-hal besar yang mereka lakukan di dunia dari impian kanak-kanak mereka. Ernesto Che Ghuevara dan Sidharta Budagautama, sewaktu kecil selalu bermimpi, “Aku ingin menolong orang-orang yang menderita.” Dan, mereka melakukannya ketika mereka dewasa. Juga Edison atau Enstein atau siapa pun, mereka memulai semua penemuan geniusnya dari impian kanak-kanak mereka. Sampai di sini, aku harus mengatakan bahwa impian kanak-kanak sangat penting.




Jika aku bisa memilih dan mengakali waktu, aku ingin sekali lagi menikmati masa kanak-kanak lagi. Aku ingin menikmatinya sekali lagi. Aku ingin melakukan hal-hal yang kulewatkan ketika aku masih kanak-kanak. Dan, karena tidak bisa, biarlah aku mengingatkanmu: pandanglah langit, tanyakanlah pada diri sendiri, “Apa impianku? Seberapa banyak yang sudah kulakukan?”

Sekarang, aku tak bisa jadi anak-anak lagi. Inginnya sih, begitu. Andai saja aku bisa mengakali waktu. Tapi, terlepas dari kemustahilan kembali jadi anak-anak, aku ingin punya impian. Impianku tentu saja suatu saat apa yang telah aku bagi lewat tulisan dan catatan-catatan ini berguna bagi mereka. Mungki termasuk kamu yang tengah membacanya saat ini. Mungkin itu mimpi yang jauh, seperti utopia seribu langkah di hadapanku.


up