Sudah sejak lama aku ingin menulis tentang rumah. Tetapi selalu tertunda. Kadang-kadang, tulisan tentang rumah hanya kutulis beberapa baris saja, untuk kemudian kehilangan langkah selanjutnya. Di lain waktu, bebrapa paragraph sudah mulai tersusun, tapi aku merasa tak mewakilkan perasaan apa-apa pada deretan kata-kata yang kutuliskan. Di saat-saat seperti itu, aku memutuskan untuk berhenti, menunda: Aku belum siap menulis tentang rumah.
TApi apa yang kautunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun! Dan, kali ini aku kena. Ada sesuatu yang menggebu-gebu menarik-narik lenganku untuk menyalakan computer dan menuliskan sesuatu tentang rumah—tentang ingatan-ingatan kecil yang kutinggalkan pada coretan-coretan nakal Yona kecil di pintu ruang keluarga, tentang cermin di kamar kakak yang retak akibat ulah Yona kecil yang nakal, tentang segala hal.
Apa yang kautunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun. berkali-kali aku menolak permintaan ibu untuk pulang. Aku sibuk, kataku pada ibu hingga niat untuk pulang terus menerus nkugagalkan. Sampailah aku pada Rabu lalu, ketika rindu tak lagi tertahan, dan “kekuatan itu memburuku tanpa ampun”.
Lalu, aku akan pulang. Aka nada banyak kenangan yang kembali terbayang, terbentang. Kenangan tentang rumah, tentang ibu, ayah, tentang segala hal yang tertinggal. Kepulangan kali ini lain. Aku hanya ingin pulang. Itu saja. Seperti menuntaskan apa yang telah lama tertunda. Seperti seorang petualang yang kembali ke tempat dari mana dia memulai semuanya.
Sebuah rumah adalah titik tolak dan juga titik kembali. Sudah lama sekali aku tidak pulang. Setibanya di rumah, aku akan merasakan sejumlah ingatan yang menyergap pikiranku lagi. Di halaman itu, Dua belas yang lalu, seorang anak perempuan berebut sesuap nasi bersama kakak perempuannya ketika menunggu becak jemputan sekolah datang, dan Ibu hanya tersenyum dengan sepiring nasi goreng di tangan. Di pintu itu, dulu, seorang perempuan kecil bergelantungan sambil membayangkan diri seperti pebasket professional yang melakukan Slam dunk—dan ayahnya selalu memarahinya. Ada banyak kenangan di rumah, kenangan yang selalu memanggil dan menunggu, membuat kita selalu ingin “pulang”.
Lalu, aku akan membuka pintu. Bau itu, bau yang khas, bau rumahku. bau yang entah bernama apa tetapi selalu membikin aku betah berlama-lama di sana. Bau yang hanya kutemukan disini, di rumah ini. Juga seorang yang setelah itu akan bergegas ke ruang depan: iya dia ayahku. Ah, lelaki itu yang selalu berkata padaku, “Jagalah dirimu baik-baik, nak.” Lelaki yang menyayangi anak-anak dan istrinya lebih dari hidupnya sendiri.
Lalu, seseorang bertanya dari dalam sana, “Siapa Yah?”, dan kepalanya muncul dari belakang; Ibu. Ah, Ibu. Dial ah yang selalu membuatku merindu rumah. Selalu. Aku tak perlu menuliskan apa-apa tentang Ibu. Mungkin butuh sebuah tulisan tersendiri untuk menceritakannya. Pokoknya, bayangkanlah seorang perempuan yang sangat mecintai ibunya, itulah aku. Ibu, perempuan yang, ah, entah bagaimana aku harus menggambarkannya.
Apa yang aku maknai tentang rumah? Sebuah titik tolak dan titik kembali. Bangunan yang bukan hanya ruang berdinding empat dengan jendela dan pintu-pintu. Rumah adalah sebuah tempat di mana segala harapan bertumbuh, dan rasa rindu harus dituntaskan di sana. Sebuah tempat dimana kau bisa menemukan dirimu sendiri kembali menjadi anak kecil yang manja, adik yang penuh rasa ingin tahu yang berlebihan. Sebuah tempat yang dihuni orang-orang yang bisa melihatmu sebagai dirimu sendiri, apa adanya.
Ah, rumah. Malam itu, aku akan disitu. Merasa benar-benar bahagia. Kalian yang lama tak mengunjungi rumah, pulanglah. Ada rumah di sana. Juga kenangan-kenangan yang menunggu. Ibu dan ayah. Kakak. Pulanglah. Sebesar apapun kesalahanmu dan kekesalanmu, pulanglah, sebab rumah adalah sebuah titik tolak dan titik kembali. Percayalah, pintunya selalu terbuka untukmu.
Let me go home/I’ve had my run/Baby, I’m done/ I gotta go home/ Let me go home/ It will all be all right/ I’ll be home tonight/ I’m coming backhome…….

0 komentar:
Posting Komentar