Tahukah kau, cuaca Desember adalah cuaca yang buruk?
Setidaknya tahun lalu.Saat fajar membuat kita gemetar dan malam membingkai mimpi dengan gigil, semua orang mendadak buta soal cuaca. Saat makan siang semakin tua, kadang-kadang mendung tiba-tiba saja menggantung, lalu kau putuskan membawa payung atau jas hujan. Bahkan, kau mengurungkan niatmu untuk menjemur. Tapi, bah, cuaca hari ini menipumu! Gerimis bahkan tak setetes pun menyentuh ujung kulitmu, dan semalaman kau kegerahan mengipas-ngipas apa saja ke tubuhmu.
Di saat lain, awan hitam mendekat, dekat sekali. Bahkan kau pikir bisa meraihnya dengan berjinjit. “Kau tak bisa menipuku lagi!” ujarmu yang masih kesal pada mendung kemarin. Tapi lantas hujan turun tanpa gerimis. Membuatmu panik setengah mati. Air meluah kemana-mana. Bajumu basah semua. Dan, kau kena flu.
Mungkin benar cuaca Desember adalah cuaca yang buruk. Peri angin mungkin sedang flu, pikirmu: sehingga kadang ia hanya meringkuk kedinginan di pojokan kasur seperti bayi yang sedang menyusu, tapi di lain waktu, ia bisa saja bersin-bersin di mana-mana secara tak terduga. Ah, cuaca Desember, kau seperti pacarku saja.
Seperti pemahamanku yang terbatas soal cuaca di bulan Desember, aku juga terbatas memahamimu. Kau seperti peri angin yang sepanjang waktu terkena flu. Saat kusiapkan payung untuk menghadapi badaimu, kau membatalkannya dengan gerimis-gerimis kecil yang menjengkelkan. Saat tak kusiapkan apa-apa karena kupikir langitmu cerah seperti langit Mei, kau mengajakku bermain air dalam badai. Bingung sekali aku bagaimana caranya menghadapimu. Kau tak terduga. Sungguh-sungguh tak terduga, lebih tepatnya.
Kali ini, kau rupanya dan Desember sedang bersekutu mengirimkan badai padaku. Dan aku kedinginan sendirian. Sambil menduga-duga kapan badai ini berhenti. Petir menggelegar, angin kencccang, dan rumah-rumah tergenang. Sebagian tenggelam. Aku jadi berpikir, mungkin aku butuh perahu untuk mencapaimu kembali, sebab kau sudah menjadi pulau yang tersendiri. Di sana, jauh di sana, dan semakin jauh ke sana.
Cuaca Desember memang cuaca yang buruk. Aku tahu itu. Dan badai akhir tahun selalu lebih dasyat dari badai-badai biasanya. Seperti tsunami Desember beberapa tahun yang lalu. Kau ingat kan? Tapi, di luar itu semua, ada yang kusuka dari Desember: Setelah badai, bagiku langit selalu terlihat lebih indah. Bahkan, pelangi yang jarang muncul setelah badai. Aku percaya, hanya percaya, entah kenapa. Seperti aku yang selalu percaya padamu sejak ratusan purnama lalu.
Meskipun kau serupa pulau yang terlihat menjauh dariku, tersebab bumi itu bulat, aku yakin kelak kita akan bertemu kembali di satu titik. Titik yang indah seperti suasanan senja di hari Sabtu, saat kubacakan puisi ini untukmu:
hujan senja itu
menghampiriku dengan rambut yang kuyup
dan kain mencetak lekuk tubuhmu
hujan senja itu
seperti seorang putri yang merayuku
malu-malu
hujan senja itu
menutup pintu
dan mematikan lampu

