Izinkan aku bercerita,
“Barangkali masih ada harapan”, dengan sisa-sisa tenaganya sore itu, lelaki itu mengayuh becaknya kembali. Seharian, ia tak mendapatkan penumpang. Padahal, pukul delapan malam nanti, ketika becak yang disewanya harus kembali masuk “garasi”, ia harus membayar dua puluh lima ribu rupiah kepada sang juragan becak. Sang juragan sering kali tak mau peduli penyewa becaknya dapat penumpang atau tidak, ia hanya ingin tahu satu hal: biaya sewanya harus dibayar. Titik!
Tapi, sering kali nasib tidak seperti tanda titik yang pasti. Ia kadang seperti sebuah kalimat yang menggantung, tak pasti.
Bagi lelaki pengayuh becak itu, hari-hari yang ia lalui adalah sekumpulan kalimat yang menggantung. Kalimat-kalimat yang seolah belum selesai, tetapi entah bagaimana ia harus selesaikan. Sebuah kalimat yang seolah tak memiliki tanda titik. Tak terselesaikan.
Biaya sewa harus dibayarkan Titik! Dan, lelaki itu biasanya hanya bisa diam setiap kali mendengar kata-kata juragannya itu. Ingin sekali ia menjawab, “Tapi, saya tidak dapat penumpang, saya tidak punya uang. Titik!” Tetapi, ia tahu, “titik” yang ia miliki hanyalah “titik” palsu, “titik” yang bahkan tak bisa menghentikan apa pun—selain menghamburkan amarah juragannya sehingga lututnya jadi bergetar.
“Aku ingin menemukan kepastian!” gumamnya sambil menambah laju becak.
Sore itu, ia membatalkan sebuah keputusan yang hampir saja pecah di ubun-ubun kepalanya, ia sekali lagi ingin mencoba memberi makna bagi “titik” yang selama ini ia cari setiap hari. Ia melacak kepastiannya sendiri, ia mencari “titik: yang (se)harus(nya) mengantarkannya pada nasib selanjutnya.
Sambil bersiul mengayuh becak yang disewanya, ia menghibur diri dengan sebuah kalimat yang ia ucapkan dalam imajinasi sendiri, hari ini aku ingin punya uang. Titik! Maka, setengah tersenyum, di sisa-sisa tenaganya sore itu, sesaat setelah memutuskan untuk kembali memutar becak, ia bergumam, “Barangkali, masih ada harapan.”
Di rumahnya yang kecil dan selalu bocor setiap kali hujan turun, istrinya tentu saja menunggu—dengan debar di muka pintu. Anak-anak sudah merengek minta makan sejak siang tadi. “Sabar, ya, Nak….” Hanya itu yang bisa ia katakan pada anak-anaknya. Tapi, anak-anaknya tentu tahu bahwa kata “sabar” adalah sebuah tanda bahaya bagi sepiring nasi yang tak pasti. Sebuah kalimat yang menggantung.
“Pokoknya, sekarang. Titik!” teriak anaknya.
Ingin sekali ia menjawab kepada anaknya, “Pokoknya sabar, ya, Nak. Titik.” Tetapi, seperti “titik” yang dimiliki suaminya, ia tahu bahwa “titik”-nya tak memiliki kekuatan apa-apa—selain sebuah harapan yang digantung, hanya digantung. Titiknya adalah titik yang tak menyelesaikan masalah—persoalan.
Malam itu, sekitar pukul sepuluh, lelaki itu pulang ke rumahnya yang kecil dan selalu bocor setiap kali hujan. “Bagaimana, Pak?” sang istri bertanya penuh harap. “Barangkali, besok masih ada harapan,” katanya setengah tersenyum.
Harapan? Harapan ternyata serupa candu yang tak pernah tuntas. Seperti tempat tujuan selalu ada stasiun berikutnya. Barangkali, masih ada harapan. Barangkali? Ya. “barangkali”, harapan seperti kata-kata yang tak pernah member kepastian semacam itu. Tapi, di stasiun, semisterius apa pun ia berada, harapan tetaplah sebuah destinasi yang nyata. Ia ada, dan siapa pun yang menempuh suatu jalan ke arahnya, suatu saat akan sampai padanya.
“Besok? Kemarin, Bapak bilang hal yang sama, barangkali besok masih ada harapan. Besok Pak? Ibu capek, Pak. Capek!” kata isrinya setengah memaki nasibnya sendiri. Lalu, istrinya terdiam sendiri. Diam-diam, air mata leleh dan mengalir di tebing pipinya.
Lelaki itu diam. Ada getar ragu yang menyelinap di hatinya. Tapi, kemudian, tersenyum. “Bukankah hanya harapan yang membuat orang-orang seperti kita punya hari esok, Bu?” tanyanya tanpa menuntut jawaban.
Sesaat istrinya terdiam. “Besok yang semangat, ya Pak!” lanjutnya sambil tersenyum. Lalu memeluk suaminya.“Ya, Bu! Pokoknya, besok aku akan dapat uang banyak. Kita akan jalan-jalan. Titik!” jawabnya sambil menghirup bau rambut istrinya.
Harapan? Ya, harapan. Bahkan, ketika kau terdesak dan tak punya apa pun, harapan adalah senjata rahasia yang dianugerahkan Tuhan pada semua manusia. Bukankah, saat Muhamad dan para pengikutnya semakin terdesak ke Makkah, harapan adalah tenaga yang mempertahankan iman yang mereka miliki, dan menuntun langkah mereka untuk berhijrah ke Madinah? Lalu, terciptalah “harapan-harapan” berikutnya. Harapan? Ya, harapan. Bahkan, mungkin hanya itu yang menahan jutaan orang miskin Indonesia untuk mengurungkan niatnya membeli satu jerigen minyak tanah atau membeli seutas tali untuk menghabisi dirinya sendiri.
Ya, harapan.
Bila kau hari ini kau kecewa, sedih, atau merasa tak berarti apa-apa, tenanglah, tarik napasmu, barangkali, besok masih ada harapan. Bila tahun ini, mimpi-mimpimu, cita-citamu, keinginanmu belum tercapai, bila kau merasa masih tak pasti, tenanglah, barangkali, besok masih ada harapan. Bukankah hanya harapan yang bisa membuat kita bertahan? Tenanglah. Tarik napasmu. Besok masih ada harapan.
Lelaki itu, di sebuah dipan di depan rumah kontrakannya, menatap bintang-bintang sambil menghirup bau rambut istrinya. Ia bernyanyi lagu gembira. Ia menatap bintang-bintang.
Kau sedih hari ini? Kecewa tahun ini? Tenanglah. Tarik napasmu. Keluarlah. Di luar sana, banyak yang lebih kecewa dan menderita darimu. Tataplah bintang-bintang. Tatap hari esok. Dan, bacakanlah mantra sederhana ini: star light, star bright/ first star I see tonight./Wish I may, wish I might/ have the wish I wish tonight….
Teruslah memiliki harapan.

1 komentar:
Jangan Putus Harapan Yah. Titik.
Posting Komentar