Belakangan ini saya menerima dua komentar yang mengatakan tulisan saya sudah mulai tak setajam sebelumnya, menggigit lagi, bahkan ada yang mengatakan sudah tak ada manfaatnya. Kemudian saya mengevaluasi apakah benar demikian? Kalau orang mengevaluasi dirinya sendiri, umumnya cacat nyaris tak ada. Melihat ke dalam diri sendiri, buat saya, akan jauh lebih susah karena mudah memaafkan, mudah memaklumi kesalahan, ketimbang melihat sesuatu yang di luar sendiri.
Pensil dan pisau
Sejujurnya tidak susah, hanya saja membutuhkan kejujuran yang kadang menakutkan karena hasilnya kadang membelalakkan mata dan menyengat pikiran. Sama seperti beberapa saat yang lalu saya masih sempat berakhir pekan bersama teman-teman saya.
Selain jalan-jalan dan makan enak, pembicaraan serius dan beberapa kali tanpa sengaja ada momen evaluasi oleh teman saya. Dan saat evaluasi itu, saya jadi defensif, yang saya tunjukkan lewat suara yang meninggi dan kekeuh mempertahankan pendapat.
Mengapa saya defensif? Defensif itu muncul karena kepekaan yang menjadi tumpul. Seperti pensil yang awalnya tajam karena kelamaan dipakai lama-lama menjadi tumpul dan perlu ditajamkan lagi.
Sama seperti pisau kalau sudah tumpul tak ada gunanya dan memerlukan tindakan pengasahan ulang supaya pisau dan pensil berguna kembali. Supaya keduanya memiliki arti. Maka hidup saya kalau bisa diusahakan terus diasah supaya bermakna.
Masukan dari luar berupa komentar atau penilaian adalah seperti alat pengasah pisau dan pensil. Maka perilaku yang mudah tersinggung ketika diberi masukan atau penilaian, suara yang meninggi dan perilaku mengancam karena evaluasinya ternyata membuka borok, akan membuat ketumpulan seseorang makin menjadi-jadi.
Bermain layangan
Tentu sangat tidak enak dan tidak nyaman ketika evaluasi itu dilakukan. Seperti halilintar yang menyambar dan seperti tersetrum listrik. Apalagi kalau yang memberikan komen atau yang megevaluasi menggunakan kalimat dan suara yang tajamnya sama seperti pisau yang ibaru saja selesai diasah. Rasanya bukan cuma kesetrum, tetapi lumpuh. Sejujurnya saya tersakiti dan tersetrum, dan nyaris lumpuh.
Kalau seandainya saya jadi pensil atau pisau. Sudah bisa dipastikan kegiatan penajaman akan membuat saya berdarah-darah. Kata teman saya, evaluasi itu seperti mengasah berlian yang masih kasar menjadi berlian yang kinclong. Supaya makin kinclong, maka pengasahnya semakin yahud. Jadi berdarah diperlukan supaya sebagai individu saya bisa punya arti.
Tersakiti yang parah itu bukan karena yang member evaluasi itu jahat, tetapi karena kondisi tumpul saya sudah seperti gangrene di kaki penderita penyakit gula. Sudah terlalu parah sampai harus diamputasi.
Setelah liburan, setelah memikirkan evaluasi dari teman saya itu, dan selama proses kesembuhan yang sedang berjalan, dan masih terasa cenat-cenutnya, saya seperti tengah melihat perbedaan tangan yang baru selesai di manicure dan melihat tangan yang baru mau di manicure. Yang satu begitu bersih dan rapi, yang satu belum bersih dan belum rapi.
Tajam itu penting, karena dengan tajam, saya bisa tahu bahwa berselingkuh itu bukan hebatnya saya menggoda, tetapi betapa tumpulnya saya sampai tidak tahu bahwa saya sedang menjadi pencuri. Saya bisa tahu malas itu bukan hak saya melainkan betapa tumpulnya saya sampai tidak tahu bahwa bekerja keras lah kewajiban saya.
Tajam itu penting supaya saya itu tidak gampang mengatakan saya lupa ini dan itu karena tidak berani menghadapi kenyataan kalau saya memang keliru. Tajam itu memberi kepekaan kapan waktunya saya berhenti bicara, kapan waktunya saya berteriak. Dan juga memberi tahu saya, cara berbicara, menggunakan suara saat memberi masukan agar orang yang saya beri masukan tidak terkena serangan jantung dan cenat-cenut.
Tajam itu digunakan untuk bermain layangan kehidupan. Tahu kapan waktu yang tepat untuk menarik dan tahu kapan waktu yang tepat untuk mengulur.

0 komentar:
Posting Komentar