MEMORIA

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu/lagu yang kunyanyikan dengan rambut kepang disisir ibu/ dan baju seragam yang agak bau keringat di hari rabu

Maaf karena beberapa hari yang lalu aku membuatmu khawatir. Setelah pesan-pesanmu tak kubalas, aku juga mengabaikan teleponmu yang bernada lebih cemas. Aku hanya ingin sendiri. Aku tau kau sangat menyayangiku, bahkan melebihi dirimu sendiri, tapi belakangan ini kau agak berlebihan. Aku senang sebenarnya kau begitu perhatian padaku, tapi kadang-kadang seseorang perlu melacak kesendiriannya seorang diri. Di fase itulah aku sekarang, tidak usah terlalu khawatir.

Dimana aku sekarang? Nanti juga kau pasti tahu. Aku tak pernah pergi jauh, kau tahu itu. Setiap kali pergi agak jauh dan aku tak pernah sekali pun berpikir ingin meninggalkanmu. Bahkan, aku tak pernah percaya pada diriku sendiri bahwa aku sanggup meninggalkanmu.

Aku hanya sedang bersembunyi saja, di sebuah tempat yang sebenarnya tak jauh darimu. Hei, bersembunyi bukan soal jauh atau dekat kan? Sembunyi adalah soal "menghilang", kau bahkan tak tahu sebenarnya aku selalu bisa melihatmu beberapa hari belakangan ini, kan? Sebab, aku memang tak jauh darimu. 

Hei, sudahlah, tak usah mencariku begitu. Teruskan saja kegiatanmu. Kita sudah lama tak punya waktu mengobrol lebih akab begini, kan? Aku selalu saja egois katamu. Kau juga egois kataku. Belakangan ini, kita kehilangan kesempatan untuk saling mendengarkan: setiap kali aku mengeluh, kau mengeluh. Setiap kali aku marah, kau ikut marah. Kita jadi tak punya waktu untuk saling mendengarkan, kita menjadi hanya mementingkan diri kita masing-masing.

Kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan....Sebab mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi dan menerima dengan tulus.

"Kamu sudah nggak sayang lagi sama aku!"
"Kenapa?Kok, bilang gitu?"
"Aku nggak bahagia lagi"
Ingat percakapan itu? Maafkan aku. Aku hanya mengukur kebahagiaan dari apa "yang aku rasakan" bukan apa "yang kita rasakan". Aku segera sadar setelah kau menangis. Meringkuk di sudut ruangan. Lalu, seperti biasa, setiap kali melihatmu begitu dadaku jadi lemah: jangan-jangan aku juga tak memberimu kebahagiaan, ya? Maafkan aku. Aku memang hanya mementingkan diriku sendiri belakangan ini, aku lupa bahwa hubungan ini kita bangun bersama-sama: bukan untukku, bukan untukmu, tapi untuk kita.

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu/lagu yang kunyanyikan dengan rambut kepang disisir ibu/ dan baju seragam yang agak bau keringat di hari rabu

Kadang-kadang terasa, kesalahan dan kekurangan kita masing-masing justru merupakan yang terpenting dalam semua yang kita jalani. Bukan yang terbaik dari kita. Lihatlah, saat kau menunjukkan dirimu adalah penakut nomor satu yang pernah aku kenal seumur hidupku, aku segera tahu bahwa aku cukup berharga untuk berada di sampingmu--setidaknya mengantarmu pulang malam-malam dan menemanimu. Tentu saja, saat kau juga tahu bahwa aku pelupa paling alpa yang pernah kau kenal sepanjang hidupmu, bukankah kau juga segera sadar bahwa kau begitu berharga bagiku-- setidaknya sebagai sahabat yang selalu menanyaiku: tidak lupa makan, kan?

Kamu, aku ingin cinta yang penuh semangat. Seperti kita menghafal dan menyanyikan lagu wajib saat duduk di sekolah dasar dulu. Aku ingin cinta seperti lagu wajib sekolah dasar, yang kita persiapkan secara total dan utuh. Bukan yang setengah-setengah, bukan yang sisa dari semangat yang lain.

Aku ingat saat aku menabung hanya untuk menemuimu. Meski akhirnya kau juga yang menemuiku dan saat itu pula aku marah besar karena kau tidak memberiku kesempatan untukku memperjuangkanmu. Aku cukup senang. Aku senang sekali, sejujurnya. Meski tak sesuai rencana dan tak seperti yang kubayangkan sebelumnya, kebahagiaan tak selalu harus sesuai rencana,  bukan? Kadang, ia justru jauh lebih bermakna ketika muncul sebagai sebuah ketiba-tibaan yang tak terduga-duga sebelumnya.

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu/lagu yang kunyanyikan dengan rambut kepang disisir ibu/ dan baju seragam yang agak bau keringat di hari rabu


0 komentar:


up