STOP ego sektoral deh mulai dari sekarang!!

Hari jumat pagi yang sibuk, saya harus menuju pada ruang seminar membantu dua orang teman sekedar memoderatori mereka #hehehe....sok sibuk. 

Ni dia ruang seminar yang berhasil saya jepret tadi 
*rame toh!
 rame berbagi kartu seminar dan nasi kotak

Eniwei skripsi teman saya itu menarik, tentang perencanaan pembangunan kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Kediri tempat asal saya. Inti bahasannya adalah semakin sedikitnya kawasan hijau *baca:bukan lapangan/sawah* di perkotaan. Emang kalo saya liat-liat juga kawasan ijo di Kediri jarang ditemui, mana coba? Alun-alun? Iyu mah cuma tempat PKL mangkal, yang banyak jualan kerupuk upil sama bakso. Bahasa sundanya riweuh atau ribet karena ruang terbuka hijau yaitu alun-alun kota telah beralih profesi sebagai ladang kapitalisme. Hayah istilah baru lagi........pake bahasa manusia napa??? Hmmm gini deh. Mau gak mau, suka gak suka kita akan sekarang hidup di negara yang kapital dengan gaya hidup hedonisme serta konsumtif. Alias, di sekeliling elo-elo pade ini bulshit sekali yang namanya ekonomi kerakyatan lah, otonomi daerah untuk menonjolkan potensi daerah lah, yang ini lah itu lah. Barangkali bahasan saya sulit jika diterima korban (masyarakat/penjual koran/penjual bakso/si penjual krupuk upil pun jadi sasaran) tetapi para mahasiswa yang ngakunya sebagai kalangan intelektual mungkin memiliki istilah yang lebih pas. Eits kan pada nunduk kalian ini gak usah pura-pura gak tahu, buat apa kita susah-susah belajar 4 tahun kalau pada akhirnya sok bego malah bego beneran tar. Udah deh gini aja, belajar sama-sama.

Problem's maping nya kira-kira seperti ini:
Negara berkembang seperti Indonesia, India, Singapura telah tertinggal jauh dari negara maju (Amerika, Eropa, Rusia) . Baik itu dari segi ekonomi, sosial maupun budaya. Sehingga negara berkembang ini pada berlomba-lomba untuk ikutan maju atau modern lah istilahnya yah selain ngiri ma negara maju dan juga sudah merupakan keharusan Indonesia untuk ikut dalam pergaulan internasional. Makanya gak aneh kalo di Kediri yang merupakan bagian terkecil dari Indonesia terus berbenah untuk menjadi modern. Tapi ya gitu deh pembangunan hanya didasarkan pada pengertian usaha yang akan mempengaruhi dan merubah potensi sumber-sumber dan keadaan lingkungan hidup. Akhirnya pembangunan identik dengan pembangunan segala infrastuktur fisik saja seperti yang terjadi pada masa orde baru. Ternyata kebanggan saya selama bercerita mengenai tempat kelahiran saya kepada teman-teman "Eh kediri mah kota, kita ada bioskop, mall, waralaba mana yang gak ada di kediri? #sok tau padahal ngeh juga enggak biar dibilang maju aja" adalah NOL BESAR! Kota dengan jumlah lahan terbatas guna memenuhi tuntutan penyediaan lahan atau tanah yang luas untuk pembangunan seringkali mengambil jalan pintas dengan menggunakan lahan nganggur seenak udelnya sendiri. Alhasil kota pasti jadi tempat mengais rupiah saja belum lagi dampaknya pada masalah sosial lain, urban gede-gedean, kriminal, pengap, macet, banjir.

salah satu mall nya

jalan doho nih, panas, ruas jalan makin abis buat parkiran

Masak walikota saya nggak ngerasa yah? Oh tentu tidakk. Perempatan deket rumahnya lo sering banget macet. Terus tunggu apalagi? Nunggu investor pada dateng dulu sambil nancepin modal banyak? Apa emang dulunya butuh modal gede buat jadi walikota? Jadinya sekarang kejar setoran buat balikin utang buat kampanye dulu terus dilanjut sama memperkaya diri?? Aduh pak...pak...kenapa nungguin rakyatnya tereak-tereak dulu sih ya? No liat investor pada kegirangan tuh gara-gara mereka dapet lahan banyak buat berbisnis sekaligus nancepin kuku-kuku kapitalisme lebih dalem lagi. Everyone pasti punya kepentingan dibalik itu semua, jadi stop deh latah ego sektoral. Emang kalau Surabaya atau Jakarta maju dengan metropolitannya kita juga musti ikut-ikutan kan. Oke, katakanlah di Kediri ini terdiri beberapa sektor yang memang memiliki potensi masing-masing entah industri, pertanian, maupun hiburannya. Karena udah ada porsinya masing-masing jangan sampai dibalik-balik misalnya daerah mojoroto kawasan pendidikan jangan ditambahin industrinya donk kasian yang sekolah disana pada nggak bisa napas. Dengan berjejal-jejal industri dan aneka hiburan dalam wilayah kota seharusnya diimbangi dengan RTH yang udah saya singgung di atas. Biar gak panas-panas banget. Ada lo dasar hukumnya, baca aja pasal 29 UU No. 26 tahun 2007 yang berbunyi "Proporsi luasnya paling sedikit 30% dari luas wilayah kota." Tapi lagi-lagi kita diakalin orang pemkot, masak pojok-pojok kota yang dikasi pot isi taneman berjenis gak jelas gitu dimasukin ke kriteria ruang tata hijau? Biar bisa memenuhi 30% dari luas wilayah.

Huuuhhh payah,
udah hidup masyarakat pas-pasan masih juga suka dibohongin padahal kan bohong itu dosa? #muka sok lugu mendadak muncul. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya…….(Al A’raaf 56 ). 

0 komentar:


up