Sering sekali hal-hal yang tidak enak terjadi di luar kesengajaan kita. Dalam dunia “real time” dan media sosial yang “tell all” begini, ucapan, sikap, pendapat, atau perbuatan yang dinilai tidak pantas bisa segera menjadi bahan diskusi, sindiran, bahkan sampai mendapatkan sosok yang menjadi sorotan sebagai “bulan-bulanan”. Komentar negative yang dilontarkan terhadap sebuah restoran tiba-tiba membuat orang lain terdorong timpal-menimpali membicarakan kejelekan restoran tersebut. Foto “nakal” dari masa lalu yang tersebar luas, bisa membuat individu diberi label negative untuk masa yang panjang. Komentar yang tidak tepat pada saat meeting, bisa membuat seseorang yang tadinya dikagumi menjadi disudutkan. Pejabat yang salah bicara atau tertangkap kamera melakukan perbuatan yang tidak patut, mau tidak mau harus siap “mempertanggungjawabkan” keteledorannya. Kita sangat sadar bahwa nasib kita tidak selalu di atas angin. Kesalahan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak, sekejap mata bisa merusak reputasi dan langsung akan berdampak pada daya jual, respek, dan penerimaan orang.
Yang perlu digarisbawahi adalah semua orang pernah melakukan kesalahan dengan sengaja atupun tidak tapi bukan berarti mereka tidak pernah berbuat baik sekalipun saat ini dia mendekam dalam penjara bertahun-tahun atau sepanjang hayatnya karena kasus pembunuhan, mutilasi, bahkan para teroris sekalipun. Tapi apakah parameter pernah salah inikah yang dijadikan hakim putusan tertinggi atas nilai seorang manusia??? Saya rasa tidak bijak sama sekali…bukan seperti itu. Dan jika memang demikian yang telah kita kehendaki maka sebenarnya kita adalah orang yang menutup mata terhadap kenyataan atau memang kita masih merasa dirugikan atas tindakan orang yang kita rasa melakukan kesalahan. Pada akhirnya kembali lagi pada definisi kita menurut saya bukan merugikan kepentingan orang banyak melainkan orang yang bersangkutan, lalu layak kah menghakiminya beramai-ramai sedangkan ini hanya urusan yang bersangkutan? Layak kah membebankan segunung kesalahan-kesalahan yang bermunculan semakin banyak hanya karena sebuah kesalahan di pundaknya? Hei…..you’re not God!!!! And me too…
Baik bagi kita renungkan bersama….

0 komentar:
Posting Komentar