Peluit itu, tiba-tiba menjadi himne. Yang membuat sebagian penonton tertunduk lesu di antara sebagian lain yang bersorak-sorai.
Dalam situasi semacam ini, peluit adalah "alasan", sesuatu yang tiba-tiba membuat pemain berhenti berlari-tidak lagi mengejar bola dan berburu angka untuk melesakkan bola ke gawang lawan. Peluit panjang adalah alasan yang paling mendasar bagi semua penonton, pelatih, manajer, pemain, dan kita semua untuk sampai pada sebuah kesimpulan pertandingan; hasil akhir, keputusan.
Peluit lain, seperti juga alasan yang lain: setelah sebuah peluit panjang yang tak terlalu nyaring, tiba-tiba kereta kita berangkat. Dan, peluit itulah alasan penting yang membuat seorang masinis menarik tuas lokomotifnya, dan kita merasa gugup karena akan memulai sebuah perjalanan.
Bunyi peluit seperti apakah yang menggerakkan kita melakukan sesuatu?
Ada banyak bunyi peluit, ada banyak alasan. Seseorang lelaki yang pergi secara tergesa-gesa ke rumah sakit untuk menyelamatkan sepotong jarinya yang hampir putus terjepit pintu mobil, digerakkan oleh "sebuah peluit": mungkin rasa sakit yang teramat, mungkin rasa khawatir bahwa ia tak bisa bermain gitar di depan kekasihnya lagi, atau mungkin alasan yang lain.
Seseorang, aku, kau, kita, digerakkan oleh sebuah peluit. Sebuah alasan. Kenapa kita hidup? Untuk apa kita hidup? Kenapa aku menulis catatan-catatan ini? Kenapa kau membacanya? Kenapa aku senang? Kenapa kau merasa sedih atau biasa-biasa saja? Kenapa kita semua melakukan sesuatu dan merasakan sesuatu? Kita semua menyimpan bunyi peluit masing-masing. Kita semua punya alasan.
Ya, kita semua punya alasan. Seperti aku. Seperti kau.
Tapi, terkadang, tidak semua dari kita tahu alasan yang sebenarnya--terutama "alasan yang paling mendasar"--yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Seperti pemain sepak bola yang bisa saja tak mendengar peluit panjang di akhir pertandingan hingga ia masih saja terus berlari menggiring bola di gigir lapangan. Tetapi, ketika ia melihat penjaga gawang lawan sudah bertukar kaus dengan salah seorang temannya, ia segera tahu bahwa pertandingan sudah selesai dan ia memutuskan untuk berhenti berlari.Melambat. Dan, berhenti.
Apakah kau tak mendengar dan mengenali peluit hidupmu sendiri?
Ada rumus sederhana untuk mengetahui alasan paling mendasar dari apa yang kita lakukan atau kita pilih: tanyakanlah dengan "lima mengapa". Biasanya, setelah "lima mengapa", kau akan tahu alasan paling mendasar dari apa yang kau lakukan atau kau pilih. Setelah "lima mengapa", kita akan sampai pada sesuatu yang-biasanya-tak bisa kita tanyakan lagi dengan kata "mengapa" yang lain. Alasan yang membuat kau tak mendengar lagi bunyi peluit yang lebih panjang.
Mengapa pertama muncul di kepalaku malam ini: mengapa aku harus menulis? Sebuah jawaban segera menyusulnya. Karena aku ingin membagikan gagasan, perasaan, pengalaman, dan pikiranku kepada sebanyak mungkin orang. Mengapa kedua: mengapa aku ingin membagi semua itu kepada sebanyak orang? Karena aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi kehidupan orang lain--setidaknya dengan membagi gagasan dan pikiranku kepada orang lain, aku mungkin menjadi orang yang cukup berguna bagi kehidupan mereka. Mungkin. Barangkali.
Baru dua mengapa, dan aku masih bisa melanjutkannya dengan mengapa ketiga: mengapa aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi kehidupan orang lain? Biasanya, seperti yang kualami saat ini, dalam menjawab mengapa ketiga, kita butuh waktu beberapa saat memikirkan jawabannya yang paling memadai. Jawabanku: karena dengan menjadi seseorang yang berguna bagi kehidupan orang lain, aku akan menjadi manusia yang berharga di mata orang lain dan di mata Tuhanku. Mudah-mudahan tak terlalu buruk.
Mengapa keempat, Mengapa aku ingin menjadi orang yang berguna di mata orang lain dan di mata Tuhan? Karena aku ingin menghargai hidup dan mensyukuri segala nikmat Tuhan; untuk apa hidup jika hanya menjadi manusia sampah yang membebani orang lain dan mengecewakan Tuhan? Mengapa kelima: mengapa aku menghargai hidup dan bersyukur kepada Tuhan? Sebab hidup adalah anugrah terbesar dan kasih sayang Tuhan kepadaku--maka aku harus memlihara anugrah itudan menyebarkan kasih-sayang Tuhan kepada semua makhluk sebagai rasa syukurku atas semua itu.
Setelah melalui "lima mengapa" biasanya kita sampai pada "alasan yang paling fundamental" Pada Priiiitttt, aku senang menyebutnya begitu. Priiiittt bunyi yang paling penting. Barangkali. Bila kau tak yakin dengan jawaban-jawabanku, anggaplah itu skema "lima mengapa"-ku yang pertama untuk pertanyaan "mengapa aku menulis?"
Aku akan membuat skema kedua. Lima mengapa pada skema kedua akan kubuat lebih sederhana dan berwayuh arti. (1) Mengapa aku menulis? Karena aku senang menulis. (2) Mengapa aku senang menulis? Karena menulis membantuku mengekspresikan diri dan menjangkau dunia luar. (3) Mengapa aku perlu mengekspresikan diri dan menjangkau dunia luar? Karena seseorang perlu menyalurkan gagasan dan perasaannya pada orang lain. (4) Mengapa aku perlu menyalurkan gagasan dan perasaannya pada orang lain? Sebab aku manusia normal yang butuh berefleksi. (5) Mengapa aku butuh berefleksi? Sebab aku ingin hidupku layak untuk diteruskan, kata Socrates: hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tak layak diteruskan. (Kau pernah dengar itu kan, bukan?)
Priiittttt. Itu peluit pentingku. Alasan paling mendasar.
Apakah aku sanggup melanjutkan pertanyaan-pertanyaan itu dengan "lima-mengapa" lainnya? Mungkin aku sanggup, tapi aku malas mencari-cari jawabannya. Jujur saja.
"Lima-mengapa" konon penting ditanyakan pada diri kita untuk menguji alasan mendasar yang membuat kita melakukan atau memilih sesuatu. Lima mengapa memang bukan perangkat yang bisa menjaminmu menemukan alasan yang paling fundamental dalam dirimu, tapi setidaknya "lima-mengapa" akan cukup membantumu menemukan alasan paling penting yang berada di balik keputusan-keputusan dan prinsip-prinsip hidupmu.
Seperti aku, dengan "lima-mengapa"ku priiitttt!
Ngomong-ngomong, mengapa kita perlu menemukan alasan fundamental dalam diri kita? Sebab alasan itulah kelak yang akan menjadi virtue \, yang menjadi impetus, yang menjadi motor penggerak bagi banyak hal dalam hidup kita. Mengapa hidup perlu alasan? Setidaknya agar kita tahu darimana segala keputusan dan gagasan bermula, dan untuk apa semua itu ditujukan. Agar kita tak seperti robot, hidup tanpa alasan; hanya menjalankan tugas-tugas, rutinitas, lalu sudah. Seperti robot, hidup tanpa kesadaran. Setidaknya, alasan membantu kita hidup dengan penuh kesadaran!
Kau mau menjadi robot? Aku tidak. Apakah kau sudah menemukan alasan paling fundamental dalam hidupmu? Peluit yang menggerakkan apa yang kau pilih, putuskan, dan lakukan? Bila belum atau masih ragu, cobalah "lima mengapa" itu.
Sekarang, mengapa kau hidup? Mengapa hidupmu biasa-biasa saja?
Temukan bunyi peluitmu sendiri! Prrriiiiiiitttttt!

2 komentar:
`Cuma Numpang Lewat~
*menCari Alasan Ahhh... :P
Priiiiiiitttttt!!!!!
*waduh*
hahhaa...mas nanya dong, gmana caranya biar tulisan d sini gk bisa di copas yak?
Posting Komentar