Suatu pagi di kamar teman, di kasur teman dan membaca buku teman juga...haha yang saya punya hanya sebuah organizer dan pulpen saja akhirnya menulis:
Mengenai diri saya sendiri yang sedang tidak berhasil memperoleh pekerjaan, setelah sehari sebelumnya mengumpulkan form pendaftaran. Perasaan kecewa pasti ada lah namun kata teman baik saya "Kamu boleh kecewa ketika kamu memang sangat mengusahakan dengan maksimal tapi mana? Baca buku interview kek atau apa lah, berangkat ke tempat tes aja telat!" Dari kesemua omongannya benar tapi tetap saja dalam batin saya "Ah cuma kalah beruntung saja" dan sedikit ada kecewa akan kegagalan walaupun itu bukanlah pekerjaan yang saya impikan.
Seolah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi setelah kegagalan. Sungguh, sebuah kesimpulan yang salah. Mungkin ada yang harus puluhan mengajukan lamaran sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan. Ada yang harus merugi berkali-kali sebelum akhirnya sukses berbisnis. Thomas Alfa Edison pun melewati 2000 percobaan sebelum akhirnya sampai pada penemuan monumental berupa bohlam. Itu semua adalah tangga untuk sebuah pencapaian. Tak ada yang salah dengan tangga, seperti apa bentuknya. Jika itu satu-satunya alat yang memang dibutuhkan.
Jika hidup ini merupakan sebuah ruang besar, maka ada bagian kita masing-masing. Mestinya satu bagian tak merasa lebih baik dan unggul atas lainnya. Semuanya membentuk rangkaian dan saling membutuhkan. Ada karyawan, ada pemilik usaha. Ada yang berkiprah di ruang publik, ada yang lebih dibutuhkan di ruang domestik. Ada yang belajar di ruangan, ada pula yang berguru di lapangan.
Jika yang formal itu bernama perguruan tinggi misalnya, berapa yang berkesempatan untuk merasakannya? Jumlah mahasiswa Indonesia saat ini sekitar 4,3 juta orang, hanya dua persen lebih sedikit dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Jumlah yang hampir sama juga bisa kita temukan pada alokasi kursi pegawai negeri sipil (PNS) yakni 4,5 juta orang saja.
Tidak semua orang harus mendapatkan kesempatan yang sama, sebagaimana tidak logis jika semua orang memiliki jenis pekerjaan yang serupa, ada jalannya masing-masing, tidak ada strata di antaranya. Maka satu kesempatan terlewat tidak semestinya diratapi karena akan ada kesempatan lainnya, meski pada jalur yang berbeda.
Tidak ada yang salah dengan gelar atau status. Banyak orang dengan sederet gelar berikut sekian prestasi. Banyak dengan status mentereng juga terbukti mampu berbuat banyak. Persoalannya, ketika gelar dan status menjadi tujuan utama. Status tanpa peran tak layak untuk dikenang. Kemauan untuk bertumbuh bisa menyiasati keterbatasan diri untuk sukses mendapat gelar. Jika ada gelar tidak masalah, jika tidak ada pun tak mengapa. Karena semangat bertumbuh lebih pada kapasitas (semacam ukuran seberapa berdaya seseorang). Berdaya dalam banyak hal, ekonomi maupun sosial. Hanya mereka yang memiliki kapasitaslah yang akan berkontribusi. Dimana pun berada, orang yang berkapasitas akan dicari dan dinanti. Karena alasan kapasitas itu, selalu ada tempat terhormat bagi mereka yang ingin bertumbuh tidak harus melalui satu jalan. Mereka bisa sukses dengan bakatnya masing-masing.
Ngomong depan kaca:
Terlalu sempit hidup ini jika disederhanakan pada takaran formal saja

2 komentar:
salam kenal :)
salam kenal juga...yona^^
Posting Komentar