-- Religious Proselytizing --

" Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran" (al-'Ashr [1-3]:103)
Wuih kena angin apa nih tau-tau saya nulis beginian secara selama ini blog saya kering sama yang berbau-bau religius, youknowmesowell lah mencoba menjadi manusia yang lebih baik...hehe ini aja udah riya' neng!!!

Pada ayat pertama; Allah bersumpah, "Demi masa" yang artinya tidak akan ada yang bisa menghentikan satu detik yang baru terlewat. Blep! Nggak bisa kembali lagi. Tik-tok Tik-tok.....unstopable. Karenanya jangan pernah salah dan ini semua bukan buat Allah but for our own good. Ayat kedua Allah SWT berfirman "Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian". Nah liat baik-baik, siapa yang dikatakan merugi dalam ayat tersebut. Ayam jago? Uler Kadut? Atau...papan gilesan? Ah, ternyata kita, Sodara-sodara, manusia anak cucu Adam! The question is....kenapa sih kita disebut makhluk yang merugi? Kalo kita hayatin, kehidupan ini sebenarnya dalah proses yang panjang dan melelahkan. Bagaimana tidak? Kita seperti makhluk bingung yang mondar-mandir di atas permukaan bumi. Berbuat ini itu tanpa pernah mengerti kenapa harus berbuat seperti itu. Kenapa harus berlelah-lelah seperti itu. To the people of this world, please remember one thing: even if you win a rat race, you are still a rat. Semua untuk tujuan-tujuan pendek yang akan selesai di hari nyawa tersangkut di tenggorokan dan perlahan-lahan keluar dalam teriris silet malaikat pencabut. Jika tahu hidup hanya akan begitu, tentu kita akan berharap nggak pernah ada. Namun kenyataannya nggak demikian. Kita hidup -- coba pahami kata ini lebih dari biasanya. Kita melihat, mendengarkan Winamp, menggunting kuku, gosok gigi dan kumur-kumur, berjalan ke tempat aktivitas, berkeringat, sampai bersin ke muka orang lain. Kena marah, kabur, lalu tertabrak mobil. Kalo udah begini, mau mengingkari nasib dari mana? Kita hidup dan kita rugi. Apalagi ketika hidup berakhir, mati, dan menerima azab di neraka lantaran kesalahan-demi kesalahan di dunia. Dicambuk di kubur. Dibenamkan di sungai nanah neraka. Titik. BENAR-BENAR MERUGI! Namun, ayat ketiga menghapus tanda baca itu. Titik? Tidak, sesungguhnya setelah kata "merugi" itu masih ada koma ".... kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran". Uff, lega! Bahwa ada cara-cara agar kita terlepas dari status "manusia yang merugi". Nih ya tersebut tiga syarat:
Yang pertama, dilarang syirik Yang kedua setelah beriman kepada Allah adalah beramal saleh dengan melakukan rukun Islam wajib dan amal-amal lainnya. Yang ketiga adalah nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. To make the phrase more efficient......maka yang ketiga ini bisa diganti satu kata.
Dan satu kata itu adalah.....dakwah.
JGEEEEERRRRR, JGEEEERR!! BRUMM, BRUMM! BLARR!

Lha kok ada sound effect nya segala, ya? Mana rame! Suara geledek, suara motor, sama suara ledakan. Kesannya heboh banget gitu! Emang kenapa sih? Satu kata yang terdiri dari enam huruf , tetapi jika disebutkan dalam satu kata berpengaruh sangat besarmengundang pergolakan pikiran....dan pertanyaan. Haruskah kata itu yang muncul sebagai syarat agar kita keluar dari kerugian besar? Nyatanya demikian dan tidak bisa ditawar-tawar.
Kalo kamu termasuk orang yang berpikir bahwa dakwah seperti yang banyak dikenal; naik panggung, ceramah di depan ribuan bahkan jutaan orang macam Aa' Gym, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Jefri Al Buchori, atau Ustadz Yusuf Mansur, lalu ditutup dengan memimpin doa, maka selama ini kamu termasuk daftar orang-orang yang salah kaprah tentang dakwah. Singkat sajalah Amar ma'ruf nahi munkar! Mengajak pada kebaikan, mencegah dari yang jahat. Ketika hal itu semua sudah kamu lakukan, itu berarti kamu berdakwah! Semudah itu lo!
Allah SWT berfirman, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung" ( Q.s. Ali Imran [3]:104)

Sarana berdakwah itu nggak cuma sebatas di atas mimbar, tapi bisa lewat berbagai cara. Bisa lewat obrolan ringan, senyum yang ikhlas pada sesama umat muslim, perkataan yang baik, memberi hadiah, menulis cerita berhikmah, bernasyid, berteater bahkan menulis status pada jejaring sosial yang paling mudah diakses banyak orang. dan masih banyak cara yang lain lo. Yang perlu digaris bawahi adalah caranya yang kudu proporsional dan menggunakan bahasa yang baik.  In other words: gak keluar dari kaidah atawa nilai-nilai Islam. Apalagi hal ini dilakukan beramai-ramai misalnya nih, si A nulis status "Lakum dinukum waliadin", si B "Mudahkanlah skripsi saya Ya Rabb, biar cepat si abang ngelamar saya", ada lagi si C "Allah dengarkan curhatku, menganggur itu menyesakkan. Maka dari itu ijinkanlah saya dipinang PT. X" (curcol penulis). Dan banyak lagi yang lain. Betapa indahnya jika setiap kata yang keluar menyebut asma Allah, berombongan lagi....menyenangkan sekali bukan jika pintu surga terbuka lebar-lebar untuk kita-kita yang datang berombongan? Amiiiinnn......Simak deh kata Rasul tercinta kita mengenai hal ini "Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat" (H.r. Bukhari). Bayangkan satu ayat! Bukan dua, tiga, lima, sepuluh, seratus, apalagi seribu! Mau tau manfaatnya? Nih:

Satu, mendapatkan pahala yang gak bakal putus. Kalaupun kita mati nanti, nasehat-nasehat kita akan tetap berkeliaran di muka bumi dan memberikan pengaruhnya pada orang-orang yang kita dakwahi---Insyaallah. Ketika mereka berbuat baik lantaran ingat pesan-pesan kita, maka pahalanya akan mengalir ke kitab amal kita meski kita udah nggak ada lagi diantara mereka.
Dua, dapet ridla dan cintaNya Allah. Gimana enggak? Berdakwah adalah kegiatan yang dilakukan para rasul! Dan kamu tahu dong siapa rasul itu? Orang-orang pilihan yang dimuliakan malaikat, dicintai Allah. Siapa yang nggak mau keberkahan macam ini sih? Hanya orang-orang bodoh yang menolak penghargaan sebesar ini. Nggak memanfaatkan kesempatan sebesar ini. What they are thinking!?


maka berjamurlah segala kebaikan dimuka bumi ini, bismillah


*beuh berat omongan diatas, tetapi saya hanya berbagi pendapat dan rasionalisasinya. Kebenaran hanya milik Allah dan kalaupun ada yang salah atau kurang berkenan semata-mata khilaf penulis. Semoga bermanfaat*

0 komentar:


up